sungai telah menjadi kering di musim yang tak menentu
segenggam pasir adalah sekehidupan dalam takdir
demikian kata tertulis di dinding sepanjang lorong
negeri tempat kita lewati pagi menuju ambang senja kala
kita menyingkir dengan merangkak seberangi sungai
merintih perih karena burungburung punya sayap
bukan karena menyangkal diri berpunya dua tangan
yang katanya berguna untuk menguak takdir
di tanah ini dosadosa berdiri seperti pepohonan tinggi
tumbuh subur dengan airmata dan keringat kita
cepatlah tiba di tanah yang dijanjikan sejak lahir
sebelum darah kita mengental dan terasa getir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar