:lapindo
Kumpulan makhluk di petak-petak besar sebuah peta negeri
Bergegas entah kemana, pada hari-hari bencana melanda
Sayap-sayap burung tak lagi berkepak di atas udara langit ini
Kudengar jerit tangis dan ragam bunyi binatang di belukar waktu
Tangan-tangan menadah ke atas, bergerak mendulang harapan
"Ya Allah jangan biarkan tongkat- tongkat ular menenggelamkan kami
Tanah kami dimasak api neraka lalu bergolak mengentalkan malam semesta
Menjadi sebuah lautan mati yang menampung tingkah polah keserakahan manusia
Siapa yang akan menjadi Musa kami untuk tinggal di tanah yang telah Kau janjikan
Tempat berpijak berhidup semua leluhur yang telah ditata untuk kebersamaan kami."
Tanah di Istana Merdeka tempat penguasa menjalankan negeri dengan para menteri
Tanah di Patra Kuningan rumah-rumah mewah istana pembantu negeri mengaku bestari
Adalah tanah-tanah tempat mereka mengurus negeri mengurus posisi mengurus diri
Tapi mengapa tak kalian perhatikan barisan rakyat yang mengantri di belakangmu
Dan dengan kejam telah kalian putus rantai kehidupan dari pusatnya negeri ini
Sampai hari ini kalian terus sibuk sejak pagi hingga subuh kembali, berisik bergonjang-ganjing
Berkejaran kian kemari memburu kodok-kodok yang melompat sampai tinggi lalu sikut sana sikut sini
Tak perduli sampai-sampai telah membolongi bahtera negeri dan jelatanya hanyut di lautan nyeri
Lalu sekoci-sekocimu kau arungkan ke seberang sana dengan emas-emas yang telah kau raup
Tanah yang telah dijanjikan untuk generasi kami telah menjadi peti mati tempat kami kubur sakit hati
Tanah ini menanti rajutan misteri tanganMu agar kupaham untuk apa mereka berdoa
Kudengar gelisah rakyat mengapa tak pernah berkesudahan derita dari manusia atas manusia
Maafkan aku tak mampu membela mereka orang-orang yang tertindas kuasa tak berbelas
Maafkan aku tak mampu berdiri tegak menebar benih-benih kehidupan bagi hak kaum papa
Jangan biarkan mereka tenggelam di sini dihantam panji-panji penguasa pengusaha keji
1juni2010
Jumat, 19 November 2010
Engkau
memberontak pada keadaan rawan
dengan mulut membungkam meredam
membuang lendir-lendir sebuah takdir
menjilat keringat yang telah masak
tanganmu adalah gerak beriak
di atas puisi peninggalan hidup
tak pernah redup meski tergeletak
engkau api yang membakar besi
27mei2010
dengan mulut membungkam meredam
membuang lendir-lendir sebuah takdir
menjilat keringat yang telah masak
tanganmu adalah gerak beriak
di atas puisi peninggalan hidup
tak pernah redup meski tergeletak
engkau api yang membakar besi
27mei2010
Rambutnya Warna Surai Jagung
aku tersenyum sendiri di mendung hari siang
berjalan lewati sekolah di baranangsiang
suara serak kenek angkutan umum mengerak di udara
bocah bocah pembawa payung duduk di trotoar
kim menguliti daki di kaki hitamnya yang telanjang
entah berapa banyak daki lepas bercampur debu
mungkin setebal mendung di langit mewirit bulir hujan
hujan adalah makanan hangat dalam dingin yang basah
kim tersenyum ketika suaraku terdengar memanggil
ditepuk aduk kedua telapak tangannya yang kapalan
rambutnya warna surai jagung tak beraturan bentuk
gerimis panjang adalah sisir bertangan angin di kepalanya
kim datang hampiriku dengan sisa tawa canda di telinga
seperti hari-hari kemarin yang sama ia menolak ajakanku
hanya mencium tanganku sambil menerima rezeki sahaja
ia berlalu bersama angin yang membawa hujan di jalanan
8juni2010
berjalan lewati sekolah di baranangsiang
suara serak kenek angkutan umum mengerak di udara
bocah bocah pembawa payung duduk di trotoar
kim menguliti daki di kaki hitamnya yang telanjang
entah berapa banyak daki lepas bercampur debu
mungkin setebal mendung di langit mewirit bulir hujan
hujan adalah makanan hangat dalam dingin yang basah
kim tersenyum ketika suaraku terdengar memanggil
ditepuk aduk kedua telapak tangannya yang kapalan
rambutnya warna surai jagung tak beraturan bentuk
gerimis panjang adalah sisir bertangan angin di kepalanya
kim datang hampiriku dengan sisa tawa canda di telinga
seperti hari-hari kemarin yang sama ia menolak ajakanku
hanya mencium tanganku sambil menerima rezeki sahaja
ia berlalu bersama angin yang membawa hujan di jalanan
8juni2010
Candu
Kim telah melarung dirinya dalam jala bapak di laut debu dan aspal
tak ingin menjadi seorang lelaki yang cuma menadah masalah tak pecah
tak ingin menjadikan jalanan tempat ia dan bapaknya mengisap pahit candu
sejak kecil dahulu sampai masa memecah batu di hulu hamparan gedung seribu
Kantung pundi bapak hanya berisi aneka selongsong peluru tua
ada pula receh tembaga yang tak lebur dengan masa yang peluh
setelah dua tanda jasa menempel di dada yang belum anumerta
bapak cuma bercanda dengan lencana bermaya angan tak pernah nyata
Kim telah melarung bapaknya dengan lencana dan tanda jasa di rawa jiwa
tak ingin jadi prajurit kelana tak tentu rimba setelah tak punya lagi daya
memuntahkan candu yang ia sesap dari asap beracun dan recehan kumal
ia ingin melaut di samudra tempat kemiskinan dan kematian tak bertaut
9juni2010
tak ingin menjadi seorang lelaki yang cuma menadah masalah tak pecah
tak ingin menjadikan jalanan tempat ia dan bapaknya mengisap pahit candu
sejak kecil dahulu sampai masa memecah batu di hulu hamparan gedung seribu
Kantung pundi bapak hanya berisi aneka selongsong peluru tua
ada pula receh tembaga yang tak lebur dengan masa yang peluh
setelah dua tanda jasa menempel di dada yang belum anumerta
bapak cuma bercanda dengan lencana bermaya angan tak pernah nyata
Kim telah melarung bapaknya dengan lencana dan tanda jasa di rawa jiwa
tak ingin jadi prajurit kelana tak tentu rimba setelah tak punya lagi daya
memuntahkan candu yang ia sesap dari asap beracun dan recehan kumal
ia ingin melaut di samudra tempat kemiskinan dan kematian tak bertaut
9juni2010
Kim, Kau Tak Akan Mati
kau pergi ke sebuah tempat
menaruh jiwa di luar raga
pada tepi bumi pagar duri
di hari setitik noktah merah
berjuntai selendang pelangi
koyak dan pudar warna
jari matahari telah mencungkil
mata kembara di alam raya
bila tak punya lagi sayap
merayaplah di dinding langit
bila buta melatalah di bumi merah
kim, kau tak akan menyerah dan mati
7juni2010
menaruh jiwa di luar raga
pada tepi bumi pagar duri
di hari setitik noktah merah
berjuntai selendang pelangi
koyak dan pudar warna
jari matahari telah mencungkil
mata kembara di alam raya
bila tak punya lagi sayap
merayaplah di dinding langit
bila buta melatalah di bumi merah
kim, kau tak akan menyerah dan mati
7juni2010
KIM
: anak jalanan di kota hujan
kim, kemarin masih kulihat dirimu di tepi jalan jalak harupat
tak sempat mobilku menepi karena tergesa ke p m i
mau apa lagi, terpaksa kubawa perempuan tengah baya itu
kutemui dia terkulai di depan tugu kujang yang jenjang
kim, ternyata perempuan putih pasi itu mirip denganmu
bergegas aku mencarimu di setiap tepi jalan raya
kota kita kecil namun hujan sering menjadi besar
berbasah aku menyeruak kerumunan anak-anak
perempuan di pmi itu ibumu, kim
disebutnya namamu berulang dalam isak
tapi mengapa kau pergi juga, kim
sedang ibumu masih menunggu di pmi
4juni2010
kim, kemarin masih kulihat dirimu di tepi jalan jalak harupat
tak sempat mobilku menepi karena tergesa ke p m i
mau apa lagi, terpaksa kubawa perempuan tengah baya itu
kutemui dia terkulai di depan tugu kujang yang jenjang
kim, ternyata perempuan putih pasi itu mirip denganmu
bergegas aku mencarimu di setiap tepi jalan raya
kota kita kecil namun hujan sering menjadi besar
berbasah aku menyeruak kerumunan anak-anak
perempuan di pmi itu ibumu, kim
disebutnya namamu berulang dalam isak
tapi mengapa kau pergi juga, kim
sedang ibumu masih menunggu di pmi
4juni2010
Tutur Yang Lama Bisu
: ibuku yang jauh, di renta usia
1
tuturku yang telah lama bisu
tak pernah beku dimakan waktu
mungkin tak sempat lagi dibaca ibu
namun tak pernah menjadi debu
hidupku bagai anak sesat air
mencari makna di tanah basah
ketika aku meradang di huma gersang
kau meremas cemas di seberang ladang
2
aku tak pernah berakar pahit padamu
di pohon keluarga yang masih ada
meski pernah terpangkas pucuknya
tak rebah lunglai jatuh ke tanah
matahari menggamitku setiap pagi
tirai hujan memagar angin kencang
aku bertumbuh dalam rimpang badai
ceruk hatiku semakin dalam dan landai
3
dalam jauh jarak hati dan raga
namamu kupanggil tanpa jeda
engkau ibu rahim tempatku jadi
senandung bisu gitaku menyawa
tangis kesumba sungai kecil di hulu
telah bermuara di masa tanpamu
riak-riaknya menyebut namamu pilu
dimana ibu air dahaga kehidupanku
4
putaran kincir angin membawa suaraku
datang ketika kau duduk di tepian sungai
di muka rumah kecilmu selatan amsterdam
saat menyelam di kalam sastra pustakamu
sebentar lagi angin kecil musim panas datang
bibirmu gemetar mengeja nama lahirku
wajahmu adalah diriku dan kasih tanpa kata
kita selalu terpisah namun satu dalam kisah
5
engkau adalah pakaian kehidupanku
sepanjang masa umurku di batas cakrawala
di jarak tanpa batas dunia yang penuh warna
yang kupakai kala badai mengepung selepas senja
kurindu jemari kuatmu yang lama tak kurasakan
aku di sini di pemondokan sunyi merindukanmu
bila tak ada lagi waktu bertemu di renta umurmu
cintamu tanpa kata adalah air dahaga hidupku
9juni2010
1
tuturku yang telah lama bisu
tak pernah beku dimakan waktu
mungkin tak sempat lagi dibaca ibu
namun tak pernah menjadi debu
hidupku bagai anak sesat air
mencari makna di tanah basah
ketika aku meradang di huma gersang
kau meremas cemas di seberang ladang
2
aku tak pernah berakar pahit padamu
di pohon keluarga yang masih ada
meski pernah terpangkas pucuknya
tak rebah lunglai jatuh ke tanah
matahari menggamitku setiap pagi
tirai hujan memagar angin kencang
aku bertumbuh dalam rimpang badai
ceruk hatiku semakin dalam dan landai
3
dalam jauh jarak hati dan raga
namamu kupanggil tanpa jeda
engkau ibu rahim tempatku jadi
senandung bisu gitaku menyawa
tangis kesumba sungai kecil di hulu
telah bermuara di masa tanpamu
riak-riaknya menyebut namamu pilu
dimana ibu air dahaga kehidupanku
4
putaran kincir angin membawa suaraku
datang ketika kau duduk di tepian sungai
di muka rumah kecilmu selatan amsterdam
saat menyelam di kalam sastra pustakamu
sebentar lagi angin kecil musim panas datang
bibirmu gemetar mengeja nama lahirku
wajahmu adalah diriku dan kasih tanpa kata
kita selalu terpisah namun satu dalam kisah
5
engkau adalah pakaian kehidupanku
sepanjang masa umurku di batas cakrawala
di jarak tanpa batas dunia yang penuh warna
yang kupakai kala badai mengepung selepas senja
kurindu jemari kuatmu yang lama tak kurasakan
aku di sini di pemondokan sunyi merindukanmu
bila tak ada lagi waktu bertemu di renta umurmu
cintamu tanpa kata adalah air dahaga hidupku
9juni2010
LALU
setengah abad di dunia yang berabad abad
dari babad yang mana awal sebuah abjad bumi
beruntun merambat mengikuti satu sama lain
saling menjalin lalu meruntuhkan di pertarungan
ada waktu untuk diam karena kalah atau menang
ada waktu untuk kenyang dan lapar yang bundar
ada ujung suatu hari ketika aku dalam cengkeram setan
ada awal suatu masa ketika aku dalam kolam tenggelam
aku menguntai air mata dalam gelap sebuah derita
kehilangan rahim tempat mendengar detak jantungmu
pecahan bintang melengkapi kalung leherku yang lunglai
lalu aku bercerai dengan bulan dan tahun yang terkapar
sementara jantungku tetap berdetak menghentak
mampu mengarungi menyelami tujuh samudra
kembali ke awal aku dijadikan dalam kerahiman
jiwa yang barukah di bumi tua yang meronta-ronta
10juni2010
dari babad yang mana awal sebuah abjad bumi
beruntun merambat mengikuti satu sama lain
saling menjalin lalu meruntuhkan di pertarungan
ada waktu untuk diam karena kalah atau menang
ada waktu untuk kenyang dan lapar yang bundar
ada ujung suatu hari ketika aku dalam cengkeram setan
ada awal suatu masa ketika aku dalam kolam tenggelam
aku menguntai air mata dalam gelap sebuah derita
kehilangan rahim tempat mendengar detak jantungmu
pecahan bintang melengkapi kalung leherku yang lunglai
lalu aku bercerai dengan bulan dan tahun yang terkapar
sementara jantungku tetap berdetak menghentak
mampu mengarungi menyelami tujuh samudra
kembali ke awal aku dijadikan dalam kerahiman
jiwa yang barukah di bumi tua yang meronta-ronta
10juni2010
Dahaga
bukankah seorang pengembara sering merasa dahaga
lalu minum tetesan embun di pucuk-pucuk dedaunan
mengajak burung-burung yang hinggap untuk bernyanyi
menguak gelap panjang dan pasir diam di sepanjang jalan
dan di mata air yang jernih akan berhenti istirah sejenak
mengisi kendi dari tanah liat hingga penuh di bibirnya
sebab terang datang menyibak tirai tirai kelamnya jalan
aku tidak meminta sesuatu apa pun dari sumur-sumurmu
11juni2010
lalu minum tetesan embun di pucuk-pucuk dedaunan
mengajak burung-burung yang hinggap untuk bernyanyi
menguak gelap panjang dan pasir diam di sepanjang jalan
dan di mata air yang jernih akan berhenti istirah sejenak
mengisi kendi dari tanah liat hingga penuh di bibirnya
sebab terang datang menyibak tirai tirai kelamnya jalan
aku tidak meminta sesuatu apa pun dari sumur-sumurmu
11juni2010
Serabut
serabut matahari pagi yang tipis mulai menjalari jasadi
menyeruak dari balik bilik langit seusai malam memingit raga
temali pengikat mayang dibawa terbang burung pencabut nyawa
kafan membelit tiang jiwa melilit rimpang sukma di padang jasirah
jelungkap segalanya dari jemuas jumawa dan hanyut di laut
melebur mendecur dan denyar cahaya membasuh tubuh sekujur
lirih pedih batin disayat hakekat pada lapis demi lapis ari badani
jadilah baharu dari cemar memar menuju bait kediaman abadi
12juni2010
menyeruak dari balik bilik langit seusai malam memingit raga
temali pengikat mayang dibawa terbang burung pencabut nyawa
kafan membelit tiang jiwa melilit rimpang sukma di padang jasirah
jelungkap segalanya dari jemuas jumawa dan hanyut di laut
melebur mendecur dan denyar cahaya membasuh tubuh sekujur
lirih pedih batin disayat hakekat pada lapis demi lapis ari badani
jadilah baharu dari cemar memar menuju bait kediaman abadi
12juni2010
Rona Perempuan
: komako - tetirahnya seorang geisha
menuruni bukit kecil berselimut salju ketika temaram petang memudar putihnya
bagai kaki burung bangau yang berjalan ringan dan menyimpan sayapnya di pinggang
beriringan dengan jenjang bukit yang ia tinggalkan semakin jauh melandai ke rerumputan
terurai rambut hitamnya lepas dari gelungan kecil menjadi jarum-jarum menisik angin tipis
tak pernah pipih tulang menunjang raga yang dibalut sutera bunga sakura
oleh hasrat yang merekat sepanjang masa belia seperti dawai kuat shamisen
yang dipetik jemari lentik sambil senandungkan nyanyi menepis dingin berlapis
mengiringi malam akhir perjamuan langit dengan rembulan di matanya yang sipit
18juni2010
menuruni bukit kecil berselimut salju ketika temaram petang memudar putihnya
bagai kaki burung bangau yang berjalan ringan dan menyimpan sayapnya di pinggang
beriringan dengan jenjang bukit yang ia tinggalkan semakin jauh melandai ke rerumputan
terurai rambut hitamnya lepas dari gelungan kecil menjadi jarum-jarum menisik angin tipis
tak pernah pipih tulang menunjang raga yang dibalut sutera bunga sakura
oleh hasrat yang merekat sepanjang masa belia seperti dawai kuat shamisen
yang dipetik jemari lentik sambil senandungkan nyanyi menepis dingin berlapis
mengiringi malam akhir perjamuan langit dengan rembulan di matanya yang sipit
18juni2010
Ngengat Di Bantalku
ceruk di atas bantal tadi malam telah merajuk mataku
pijar di bola mata memanjang tajam menusuk masuk
kulihat ngengat-ngengat sedang berasyik masyuk
dengan kepala merunduk di jembatan yang lapuk
mengaduk-ngaduk kapuk menjadi tempat bercinta
menjadi tempat berkembang biak di bawah kepalaku
harum melati rambutku berhasil membujuk mereka masuk
aku tertawa melihat jembatan lapuk jatuh bertumpuk
ngengat-ngengat telah mati bersama kapuk busuk
kubungkus dengan potongan rambut panjangku
akan kubakar bantal kesayangan sepanjang umurku
agar kepalaku tak merunduk lagi di bantal kepalamu
19juni2010
pijar di bola mata memanjang tajam menusuk masuk
kulihat ngengat-ngengat sedang berasyik masyuk
dengan kepala merunduk di jembatan yang lapuk
mengaduk-ngaduk kapuk menjadi tempat bercinta
menjadi tempat berkembang biak di bawah kepalaku
harum melati rambutku berhasil membujuk mereka masuk
aku tertawa melihat jembatan lapuk jatuh bertumpuk
ngengat-ngengat telah mati bersama kapuk busuk
kubungkus dengan potongan rambut panjangku
akan kubakar bantal kesayangan sepanjang umurku
agar kepalaku tak merunduk lagi di bantal kepalamu
19juni2010
Kubasuh Kakimu
nanti, akan kubasuh kakimu
setelah kululur seluruh dakiku
jangan terus mengulur waktu
sampai jarum jam jatuh ke batu
nanti, akan kubasuh kakimu
atau kuoles minyak narwastu
jangan biarkan aku mengguguh
sampai kakiku jatuh lumpuh
20juni2010
setelah kululur seluruh dakiku
jangan terus mengulur waktu
sampai jarum jam jatuh ke batu
nanti, akan kubasuh kakimu
atau kuoles minyak narwastu
jangan biarkan aku mengguguh
sampai kakiku jatuh lumpuh
20juni2010
Lembar Terakhir
aku terus menulis pada lembar yang semakin menipis
mungkin suatu hari tak nyata lagi kata-kata tergaris
barisan kata telah berulang menadah harap dan tangis
akan kubiarkan ia bercerita ketika waktuku hampir habis
tentang sebuah kehidupan bernafas tipis namun berlapis
menebalkan mimpi dan kenyataan yang kadang tragis
ketakutan dalam sendiri sepanjang raga telah ia tepis
meski mimpi pupus dan jemari waktu enggan melukis
aku terus menulis pada lembar terakhir lalu habis
7juli2010
mungkin suatu hari tak nyata lagi kata-kata tergaris
barisan kata telah berulang menadah harap dan tangis
akan kubiarkan ia bercerita ketika waktuku hampir habis
tentang sebuah kehidupan bernafas tipis namun berlapis
menebalkan mimpi dan kenyataan yang kadang tragis
ketakutan dalam sendiri sepanjang raga telah ia tepis
meski mimpi pupus dan jemari waktu enggan melukis
aku terus menulis pada lembar terakhir lalu habis
7juli2010
Menjerat Awan
ada dentang lonceng gereja di lembah pegunungan entah
aku dan orangorang datang menggantang kumpulan doa
ada bayang yang mengikuti setiap detak dan jejak rupa kita
ada burung gereja yang menghalau angin kecil di atas kita
bukankah doa adalah tradisi lama akan harap dan percaya
sebiji sesawi kecil mungil bisa pindahkan gunung gemunung
siul burung memuja pagi menghantar suara alam darinya
mengapa mengejar bayang menjerat awan di atas kepalamu
8juli2010
aku dan orangorang datang menggantang kumpulan doa
ada bayang yang mengikuti setiap detak dan jejak rupa kita
ada burung gereja yang menghalau angin kecil di atas kita
bukankah doa adalah tradisi lama akan harap dan percaya
sebiji sesawi kecil mungil bisa pindahkan gunung gemunung
siul burung memuja pagi menghantar suara alam darinya
mengapa mengejar bayang menjerat awan di atas kepalamu
8juli2010
Miskin
berapa lama sudah dan berapa lama lagi
dimana pernah kita berjalan dan akan lagi
dahaga kering, lapar terkapar, tanah retak
pohon ara lara tak berbunga
pohon anggur gugur tak berbuah
tujuh tahun kata yusuf pada sang
delapan tahun di timur alberta
cerita nyata dalam semesta
dimana rahasia sukacita
sebuah kemiskinan sejati
5juli2010
dimana pernah kita berjalan dan akan lagi
dahaga kering, lapar terkapar, tanah retak
pohon ara lara tak berbunga
pohon anggur gugur tak berbuah
tujuh tahun kata yusuf pada sang
delapan tahun di timur alberta
cerita nyata dalam semesta
dimana rahasia sukacita
sebuah kemiskinan sejati
5juli2010
Maukah Engkau Membersihkan Debu Di Dedaunan
kenalkah engkau padaku di suatu hari nanti
ketika aku tak dapat lagi berjalan di halaman
dan hujan tak pernah datang di satu musim lagi
dan dedaunan telah dilapisi debu demi debu
dulu kubersihkan debu dengan teratur
menyiram di musim curah matahari
menyapa embun yang bersolek di atasnya
menyapa mata bulan senja rupawan
debu-debu itu telah menghalangi cahaya
seperti partikel-partikel hati yang kelabu
bertengger di atas dedaunan terkulai
membuatku lunglai tak dapat menyapamu
maukah engkau membersihkan debu-debu dedaunan
agar engkau tetap mengenal dan menyapaku suatu hari
agar engkau melihatku mengangkat tangan padamu
memintamu singgah dan duduk di bawah pepohonan
28juni2010
ketika aku tak dapat lagi berjalan di halaman
dan hujan tak pernah datang di satu musim lagi
dan dedaunan telah dilapisi debu demi debu
dulu kubersihkan debu dengan teratur
menyiram di musim curah matahari
menyapa embun yang bersolek di atasnya
menyapa mata bulan senja rupawan
debu-debu itu telah menghalangi cahaya
seperti partikel-partikel hati yang kelabu
bertengger di atas dedaunan terkulai
membuatku lunglai tak dapat menyapamu
maukah engkau membersihkan debu-debu dedaunan
agar engkau tetap mengenal dan menyapaku suatu hari
agar engkau melihatku mengangkat tangan padamu
memintamu singgah dan duduk di bawah pepohonan
28juni2010
Lepas
: seorang isteri dan ibu, sahabatku
lepas saja ikatan bila sukmamu telah gugur dan terurai di kelambu yang menutup ranjang malam
sementara setiap pagi kau harus kembali membukanya untuk mengangkat helai rambutmu
yang melekat di setiap lubang pori kelambu putih yang telah hampir pudar warnanya
lepas saja penyekat yang membatasi jiwamu untuk berontak dan berteriak tidak
sementara setiap hari kau harus mengosongkan diri untuk menyimpan biji-biji candu
yang membuat setiap rongga di kepalamu tak dapat lagi bergerak membekukan otak
lepas saja penyebut dirimu seolah kau tegar di sisi tiang yang berdiri melintang
sementara setiap udara tak dapat kau hirup dengan mulutmu yang terbuka menganga
yang membuat setiap resonansi di rongga pipimu beku kaku tak mungkin melawan kesewenangan
29juni2010
lepas saja ikatan bila sukmamu telah gugur dan terurai di kelambu yang menutup ranjang malam
sementara setiap pagi kau harus kembali membukanya untuk mengangkat helai rambutmu
yang melekat di setiap lubang pori kelambu putih yang telah hampir pudar warnanya
lepas saja penyekat yang membatasi jiwamu untuk berontak dan berteriak tidak
sementara setiap hari kau harus mengosongkan diri untuk menyimpan biji-biji candu
yang membuat setiap rongga di kepalamu tak dapat lagi bergerak membekukan otak
lepas saja penyebut dirimu seolah kau tegar di sisi tiang yang berdiri melintang
sementara setiap udara tak dapat kau hirup dengan mulutmu yang terbuka menganga
yang membuat setiap resonansi di rongga pipimu beku kaku tak mungkin melawan kesewenangan
29juni2010
Kita Pernah Bertemu
kita pernah bertemu di sudut temaramnya bintang senja sehabis gerimis panjang
jemariku resah mengerucut di bibir basah mencoba redam kata berjenjang
setelah dua dasa putaran waktu yang tidak mampu menembus dua padang ilalang
angin kemarau pun teramat liat tak hendak singgah ke pantai berbatu karang
kita sering bertemu ketika padang rumput masih hijau di bawah bukit yang telah jadi sirkuit
kita sering bertemu ketika hari membakar ikan layur di pantai karang hawu beratapkan langit
kau adalah seseorang yang dikirim angin kembara menembus badai yang teramat sulit
lalu tangan kita menggantang doa demi doa tanpa menyadari ruang raga semakin sempit
kita pernah bertemu
kita pernah bertemu
mungkin dulu di pintu rahim ibu
atau di senja berpayung biru
senja lembayung membuka payung segala kerinduan yang menyirnakan segala rasa sakit
5juli2010
jemariku resah mengerucut di bibir basah mencoba redam kata berjenjang
setelah dua dasa putaran waktu yang tidak mampu menembus dua padang ilalang
angin kemarau pun teramat liat tak hendak singgah ke pantai berbatu karang
kita sering bertemu ketika padang rumput masih hijau di bawah bukit yang telah jadi sirkuit
kita sering bertemu ketika hari membakar ikan layur di pantai karang hawu beratapkan langit
kau adalah seseorang yang dikirim angin kembara menembus badai yang teramat sulit
lalu tangan kita menggantang doa demi doa tanpa menyadari ruang raga semakin sempit
kita pernah bertemu
kita pernah bertemu
mungkin dulu di pintu rahim ibu
atau di senja berpayung biru
senja lembayung membuka payung segala kerinduan yang menyirnakan segala rasa sakit
5juli2010
Bertemu Ibu
1
ibu,
seperti padi yang baru tumbuh aku rapuh
bercermin di genang air diam aku bersimpuh
menguatkan serabut agar kaki tak lumpuh
mencari air kehidupan di percikan subuh
2
ibu,
aku meruing pucuk mimpi menenun hari
irama lagu embun di daun-daun kenari
tetesnya tergelincir jatuh dari buku jemari
tanahku kering tak berjejak kaki menari
3
ibu,
lautan sepi sauh bertolak sendiri
senja telah berlabuh di pangkuan hari
air laut tak pernah surut oleh matahari
namun dimana engkau harus kucari
4
ibu,
angin tak lagi bawa wangi air susumu
di pudar kain batik trusni pemberianmu
bagai selapis nyawa akan pergi berlalu
bertemu dengan ribuan biru rinduku
3juli2010
ibu,
seperti padi yang baru tumbuh aku rapuh
bercermin di genang air diam aku bersimpuh
menguatkan serabut agar kaki tak lumpuh
mencari air kehidupan di percikan subuh
2
ibu,
aku meruing pucuk mimpi menenun hari
irama lagu embun di daun-daun kenari
tetesnya tergelincir jatuh dari buku jemari
tanahku kering tak berjejak kaki menari
3
ibu,
lautan sepi sauh bertolak sendiri
senja telah berlabuh di pangkuan hari
air laut tak pernah surut oleh matahari
namun dimana engkau harus kucari
4
ibu,
angin tak lagi bawa wangi air susumu
di pudar kain batik trusni pemberianmu
bagai selapis nyawa akan pergi berlalu
bertemu dengan ribuan biru rinduku
3juli2010
Di Sisi Jalan Sawojajar
berdiri di sisi jalan sawojajar tanpa trotoar lagi
pohon kenari telah tua dan tinggal sedikit lagi
masih ada wangi jeruk limau dari dalam rumahmu
seperti dulu ketika makan siang memanggil-manggil
rumah sewaan jaman belanda yang cuma paviliun itu
kini telah megah jadi penginapan tempat istirah
bersatu dengan rumah besar tempat bekas panglima
di masa penumpasan kartosuwiryo jaman soekarno
berdiri di sisi jalan sawojajar yang tidak sejuk lagi
asap kendaraan berkumpul jadi polusi yang pekat
dan curah hujan tak pernah mampu membuyar asap
membuat mataku melihat dirimu yang tak pernah lenyap
kerikil-kerikil kecil di halaman rumah telah berganti aspal
menjadi tempat parkir mobil pengunjung kota hujan
disambut wangi roti yang baru saja keluar dari pembakaran
di toko roti jaman dulu yang tetap masih berdiri hingga kini
aroma jeruk limau lotek ibu, aroma roti tanpa pengawet
aroma dirimu bapak guru kekasihku dulu tetap lekat
ketika menggenggam jemariku di mesin tik buatan jepang
aku tetap menyimpannya di dalam detak jantungku
10juli2010
pohon kenari telah tua dan tinggal sedikit lagi
masih ada wangi jeruk limau dari dalam rumahmu
seperti dulu ketika makan siang memanggil-manggil
rumah sewaan jaman belanda yang cuma paviliun itu
kini telah megah jadi penginapan tempat istirah
bersatu dengan rumah besar tempat bekas panglima
di masa penumpasan kartosuwiryo jaman soekarno
berdiri di sisi jalan sawojajar yang tidak sejuk lagi
asap kendaraan berkumpul jadi polusi yang pekat
dan curah hujan tak pernah mampu membuyar asap
membuat mataku melihat dirimu yang tak pernah lenyap
kerikil-kerikil kecil di halaman rumah telah berganti aspal
menjadi tempat parkir mobil pengunjung kota hujan
disambut wangi roti yang baru saja keluar dari pembakaran
di toko roti jaman dulu yang tetap masih berdiri hingga kini
aroma jeruk limau lotek ibu, aroma roti tanpa pengawet
aroma dirimu bapak guru kekasihku dulu tetap lekat
ketika menggenggam jemariku di mesin tik buatan jepang
aku tetap menyimpannya di dalam detak jantungku
10juli2010
Penantian
:natal mungkin gagal
adven masa penantian pergumulan kehidupan kematian
manusia senantiasa mengupas ingatan sebuah mimpi
dari ketidak tahuan akan mula dari yang semula bermula
fragmen demi fragmen bermunculan di panggung penglihatan
seperti hidup ia adalah kisah yang cepat tamat
mungkin kita melihat adven berdasarkan watak sendiri
oiii, raja mimpi yang meraja dan selalu hidup dalam degup
tulisan angin yang membuka helaian kata demi kata dan buta
melekat debu jalanan di rona wajah terjajah elegi mimpi pagi
dimana letak singgasana raja yang dinanti segala manusia
apakah ada mimpi dalam mati ketika menanti masa menjadi tak nyata
hanya satu hembusan nafas yang mengakhiri segala dan jadilah lupa
hidup adalah matahari yang membakar dan mendidihkan air yang diam
apa yang kita nanti di adven yang berakhir dengan mati
mati bukan penantian bukan perubahan di patah doa terakhir
mari menutup mata di masa penantian karena kita selalu ketinggalan
adven masa penantian pergumulan kehidupan kematian
manusia senantiasa mengupas ingatan sebuah mimpi
dari ketidak tahuan akan mula dari yang semula bermula
fragmen demi fragmen bermunculan di panggung penglihatan
seperti hidup ia adalah kisah yang cepat tamat
mungkin kita melihat adven berdasarkan watak sendiri
oiii, raja mimpi yang meraja dan selalu hidup dalam degup
tulisan angin yang membuka helaian kata demi kata dan buta
melekat debu jalanan di rona wajah terjajah elegi mimpi pagi
dimana letak singgasana raja yang dinanti segala manusia
apakah ada mimpi dalam mati ketika menanti masa menjadi tak nyata
hanya satu hembusan nafas yang mengakhiri segala dan jadilah lupa
hidup adalah matahari yang membakar dan mendidihkan air yang diam
apa yang kita nanti di adven yang berakhir dengan mati
mati bukan penantian bukan perubahan di patah doa terakhir
mari menutup mata di masa penantian karena kita selalu ketinggalan
Langganan:
Postingan (Atom)