Senin, 22 November 2010

Anak Rahimnya

seorang perempuan lacur yang menyusui anak rahimnya
berlomba dengan malam,tak ingin membelah buah dadanya
melapis lipas helai berhelai dari lelaki-lelaki
menjajani dan menyantapnya sebagai makanan selingan
dia tak menyimpan jalangnya binatang dari rimba lelaki-lelaki lapar
dia menyimpan roti-roti berdebu beroleskan keringat lelaki penidurnya

seorang perempuan lacur yang menyusui anak rahimnya
berlomba dengan literan air susunya sebab tak ingin dituangkan
ke dalam mulut lelaki-lelaki yang tak pernah usai hausnya
dia menyimpan semua potongan hati memecahnya bergetah-getih
dia memburai salju-salju membeku lelaki berserakan di tilamnya
dia mencairkannya sebagai noktah-noktah perjalanan tubuhnya

ia mendengar suara...setiap bisikan , setiap jeritan ,setiap tangisan
dari potongan hati menggenta cinta menggemakan kesia-siaan
kepada setiap lelaki yang bukan manusianya

070909

Emper Ini, Toko Kita, Nak

kita hangatkan badan, nak
hujan tak jua berhenti
terasa panas sekujur tubuhmu

di samping toko ini
ada sedikit tempat berlantai, nak
kualaskan sepotong karton
yang kuambil di pasar tadi

menggigil badanmu, nak
biar kupeluk dirimu
yang tidak lagi seberat dulu
ketika makanmu tak henti

kuingin menghangatkanmu, nak
dengan baju hangat yang kau punya dulu
dengan selimut tebal kesayanganmu
dengan boneka panda teman tidurmu

kuingin baringkan tubuhmu, nak
di atas tempat tidurmu dulu
bukan di lantai beralas karton ini
meski lantai ini dulu
tempat kau bermain dakon
bersama teman-temanmu

nak, mengapa tubuhmu semakin dingin
saat aku menghangatimu
nak, bangunlah sebentar
kucarikan makan untukmu
mengapa tak kau buka matamu

biar kubawa dirimu masuk
ke dalam toko
mungkin kau ingat
di pojok kanan tembok ini
kau suka berbaring
di atas kasur tipis
menanti toko usai

nak, bangunlah nak
bukalah matamu
ini toko kita dulu
kau bisa masuk kedalamnya
kita bisa seperti dulu lagi
sebelum huru-hara
melanda ibu kota
bangunlah nak,
kuhangatkan tubuhmu
di dalam toko kita dulu

280909

Penari Tanpa Kaki

kemerdekaan diambil
berjeruji di setiap ruang
ia tetap merdeka
dari hidup dan jiwa miliknya
tak mengambil apa pun
dari merdekanya

dawai gitarnya berjari
bergita suara dalam kidung
menghantar ruh kepada semua
yang merdekanya redam
dan dirampas keji

orang-orang buas
penguasa serimba
memotong jemari tangannya
menghancurkan dawai gitarnya
karena kidung jiwa
menghempas nyawa dalam neraka

dia bergita dengan roh empunya
buasnya binatang penjara
tak mampu taklukan jiwanya
mereka mengambil lidahnya
agar tak dengar apapun
dari mulut bidadari jelatanya

lalu hening di badan penjara
maut tak berkata sepatah
ia menari di tempat yang sama
musik kalbunya tanpa bunyi
tak seorang pun dapat mendengar
dirinya adalah musik yang berbunyi

dia bergoyang ikut irama langit
semua orang saling bertautan
menari bersamanya tarian jiwa
walau tubuh penuh darah
hancur perlahan sampai ke bawah
sang maestro kehilangan kakinya

ia tetap menari membawa kaki kirinya
sampai pada puncak tenarnya
bebas dari manusia rimba
yang telah mencabik-cabiknya
ia mencapai puncak keindahan
tidak butuh dua kaki untuk menari


*terinspirasi dari seorang penari klasik india "sudha chadran"
yang kehilangan kaki, jemari tangan dan lidahnya di kamp
konsentrasi*
271009

Puisi Yang Menutupi Tubuhku

di tengah danau di tengah bulat mata
sepucuk surat larut dalam airnya
puisiku gamang tenggelam di dalam
air mata mengambang dijerang erang

engkau menoreh puisi di tubuhku
kutulis kembali pada secarik kain
yang selalu menutupi tubuhku
setiap kali kita usai memagut cinta

lalu puisi semakin berkalbu ragu
tak cukup lagi ruang di batin kita
bait demi baitnya berceceran di kertas buram
ke danau ini kubawa dalam limbung jiwa


291210

Aku Membakar Dupa

aku membakar dupa di kamarku
harum ranjang dan gaunku
memercik asap di sekujur tubuhku
hari kawin sudah berkunjung

ibu bapak memberi perintah
untukku segera menikah
perempuan harus merekah
di hari kawin yang berkah

telah lama hidup kita papa
tak punya peringkat harkat
engkau adalah tangga
meraih pundi menabung nyawa
----------------------------
aku membakar dupa di kamarku
esok hari pesta buatku
aku membakar wajahku
harum mewangi pohon cemara

pohon lara sepanjang musim


140110

perempuan

aku dan kau dan kau perempuan
adalah gelisah busung payu dara
yang lelahnya menetes di bekas selaput dara

160110

Anak Lelakinya

lelaki yang melihat lentera dari kejauhan
berjalan sendiri menuju ujung jalan
menatap lentera di ujung tiang panjang

__" oi, lentera bukan di ujung jalan ini !" seseorang berteriak

" ya, aku tahu, aku salah dan apakah buruk ?"

lelaki yang melihat lentera dari kejauhan
mencari anaknya lelaki yang belum kembali
pergi dengan lentera di tangan menuju seberang

anaknya lelaki berputar arah, pada angin yang membuka payungnya
lelaki itu mengikuti angin dan kehilangan jalannya
lelaki itu tetap berjalan ke ujung jalan
menatap lentera di ujung tiang panjang

lelaki itu membawa angin yang bertiup keras
di ujung jalan ia bersimpuh dan melempar angin
anaknya lelaki telah kembali pulang
sambil menatap lentera di ujung tiang panjang


190110

Di Santo Petrus dan Kapela Sistine

di pelataran santo petrus aku berjalan lalu berdiam
kedua mata kecil dan sipit ini mampu melihat dalam
seakan abadi tak tertelan dalam abad -abad silam
membayang cerita pada sejarah dan peninggalan kelam

hidup tak sekedar berjalan dan terdampar gusar
penderitaan, kasih, kebencian, pengadilan
penindasan, pengkhianatan, penebusan
di langit kapel sistine gambaran michel angelo

sebuah tangan yang mampu menuntun
lampaui mataku sebesar kuaci dan jatuh
di dasar jiwa manusia manusia merumit pikir
sebesar inikah melanglang jalan pulang

sebuah rumah megah tempat berdiamnya
kumasuki dan kuhampiri lalu tersungkur di hati
sungguh , aku tak mengerti
sebab banyak tanya di sini

(dan masih tertinggal tanda itu, sejak perjalananku di roma, vatican
31 tahun yang lalu)
150210

Di Jembatan Gantung

di jembatan gantung melengkung
menjuntai kedua kaki dalam senandung
menatap riak air sungai bingung
tengadah pada awan berat mendung

kaki mengayun langkah sampai ke sini
menjuntai harap putih berjuta hari
menutup kelopak mata menyirna diri
terbuai senandung awan angan hati

petir menyambar cermin air sungai
pecah rupa menyisa raga sia-sia
tak perlu gontai kaki di tanah fana
meski lumpuh bersimpuh menatih baka
050310

Dara

cadar awan
menerawang rawan
cahaya yang enggan
datang amat perlahan

hari membuka tabirnya
dara melipat wajahnya
menyimpan mimpi setiap malam
di lembar cita berkalam

dara tak henti menabung mimpi
cadar awan menyibak diri
sulur cahaya tak mampu sendiri
pergilah dara, temani cahaya

(perempuan tak cuma mimpi)
090310

Tanpa Judul

1
serpihan kata
di muka cermin kusam
cerita nyata

2
tebing yang curam
di sisi pegunungan
sedalam luka

3
rajawali terbang
membentang langitnya
jiwaku bebas

090310

Bersama Ayah Di Kota Tua

jalan bersama ayah di kota cina yang tua
masa kecil tak terlupa di kata dan rasa
hujan deras turun di "princen park"
mencandai banjir dengan kecipak kaki

malam itu ibu pergi entah kemana
aku dan ayah pergi naik opelet
membuang nelangsa di kota cina
makan bebek peking berdua

sepasang sumpit menari
bersama jemari ayah di mangkuk
aku meniru ayah sambil menunduk
tapi nasi dan bebek menari sendiri

makan malam di "princen park"
seperti perjamuan terakhir kami
setelah itu ayah pergi
tak pernah kembali

100310

Hari Pengantin

di malam bulan sepenggal
tawamu canda sunyi
lilin mati di nyanyi puji
bahana denting bintang
peri langit tiup sangkakala

di pagi mimpi merah jambu
keranda baru tanpa kelambu
siapkan bulan madu seminggu
kenduri di taman nirwana biru

lelakimu dalam kereta kencana
simpankan bulan tertinggal
di sana hari pengantinmu
besok purnama sempurna
110310

Tulang Perempua

membelah air matanya yang diam
dalam isak yang tenggelam
kutahu hidup teramat kelam
seakan raganya telah tenggelam

perempuan membanting tulang
karena hidup teramat panjang
selalu menjadi yang terbuang
ketika lelakinya tak pernah pulang

setiap pilihan adalah peluang
terbuang pun engkau bisa terbang
letakkan tulang rusuk yang membusuk
ia tak akan pernah lagi menusuk
180310

Cuma Sebadan

secarik kertas tanda jadi
kwitansi perkawinan
kusimpan di bawah ranjang
tempat bersepakat bersebadan

derai tawa desah basah
menumpuk di rahim atas nama cinta
aku diam dan mual tercekik kata bijak
senjata lelaki awal dia ada

aku bodoh karena aku perempuan
meringis tangis ditipu sebuah kalimat
sakral oleh ayat dan pedoman
kini rahimku terbelah-belah
240310

Di Stasi Kelima Belas

aku berjalan
dari stasi ke stasi
aku lupa menghitungnya
di stasi keberapakah aku berhenti
lalu berjalan kembali
bagai gamang dan letih
lalu jatuh
entah berapa kali

aku haus, itu yang pertama
dan aku minum
aku lapar, itu yang kedua
dan aku makan
aku telanjang, pernahkah
aku tak tahu

di stasi yang kelima belas
aku melihatmu
letih, lelah, lesu
dan aku akan sepertimu
tapi tidak menjadimu
010410

Segantang Cinta Yang Hilang

Nak, seberapa panjang lengking tangismu
tak terdengar bapakmu yang kawin lagi
seberapa tajam sembilu mengoyak hatimu
tak terlihat bapakmu yang lupa padamu

Dirimu tak pernah sebatang kara
hanya kehilangan segantang cinta
air susu ibumu tak berhenti mengucur
menggantikan cucuran air matamu

Reguk dan jadilah kuat lalu melesat
setiap air yang mengalir dari ibu
adalah darahnya yang menghidupkan
mematikan setiap virus dalam darah bapakmu
mengeluarkannya dari setiap nadimu
040410

Kukenang Dalam Genang

belum kubersihkan muntahan yang satu seperca bentuk
telah kau tumpahkan kembali berulang dalam periuk
kau sakit dan gemetar di dalam kamar bertirai mempelai
tak pernah kusadar waktu telah menawar di lorong sempit
lalu kubawa dirimu dalam gegas hari yang ranggas dan buas

malam datang di pembaringan berselimut pengharapan
kujaga dirimu dalam cinta yang datang lagi setelah pergi
bulan depan telah kita rancang bertandang ke negeri seberang
sembuhlah kanda bulan madu menanti meski usia meniti

esok hari malaikat tak terlihat berada di sekeliling kita
air dahaga telah kau pinta dan reguk bagai kelana
mari kita tempuh bersama perjalanan yang akan datang
namun kau terbang ke rumah bulan dengan sayap malaikat
dan aku diam dalam genang melihatmu pergi dan menang



kenangan tiga tahun kepergianmu
17 april 2007- 17 april 2010

Bukan Cinta Terlarang

Abe:

kau meminangku
saat bulan semu putih
sematkan kejora kecil
di mata kerinduanmu

aku berkata padamu
langit tak selalu biru
bulan tak bermadu
di dada perempuanku

tak perlu ranting awan
buat melukis langit
tujuh purnama mesti ada
meski cinta hanya kembara

pengikat semu tak lagi perlu
meski cinta tak terlarang
dan hidup bukan apa kata orang
dogma dan surat biarlah melayang
280410

Di Sini

:tanah resah

kami seperti jerami terurai
di atas tanah bertahi sapi
kering seperti bibir tak bertabir
pecah angkara di bara raga

revolusi sepi

300410

Mata Burung Hantu

bulan bundar melebar keluar dari loyang langit
membungkus malam yang semakin dalam
burung hantu duduk di dahan cemara putih
bulan pindah ke genang jingga bola matanya

aku berenang diam dalam matamu burung malam
langit tak pernah lagi mesra seribu malam
bintang remuk kecil seperti pasir di udara
rintih perih air mataku berpayung di matamu
020510

Langit Pagar Duri

: anak-anak kemudian

malam merayap malam merambat
sulurnya mendaki mencari ujung langit
anak-anak bermain kaki berayun
di perahu bulan sabit lautan sunyi

malam tinggi malam sepijakan diri
kumenukik berpekik pada tanah hitam
hujan petang membawa bau mesiu bintang
bersama jatuh di atas lahan gersan

perahu bulan sabit tenggelam
di bawah dasar langit kelam
anak-anak pagi berkeliaran
di langit berpagar duri
040510

Seusai Pagi

pagi melepas diri
elegi matahari kuning padi

di jendela tanpa kisi
burung gereja mati

lidah api
requiem bumi
040510

Lelaki Berharta

: bertha indira di dalam kenangan

lima tahun kemudian
lelaki itu kini sendirian
bertahan dalam kesunyian
entah apa yang dipikirkan

mungkinkah ia telah melupakan
isteri yang pergi dalam kesakitan
tak pernah melawan pada keadaan
menerima segala perlakuan

dalam renta yang semakin nyata
menumpuk harta tanpa berderma
anak tak punya belahan jiwa tak ada
berpikir harta akan kau bawa serta

kau pernah mencoba mencari anakmu
yang dulu kau cipta dengan nista
dan telah kau buang tanpa malu
menyayat hati isterimu dengan sembilu

kini berdiri pun dengan penyangga
mau kau bawa kemana harta dunia
tuhan juga telah lupa kau ada
adakah yang mengusungmu dengan keranda


040510

Di Papan Usang

tak ada bunga kamboja yang gugur
cuma segunduk tanah sedang mengering
malam hujan tak singgah lama di sini
papan usang bertulis namamu masih basah

matahari belum kerja di hari yang bakal kering
kembang ilalang panjang bergoyang-goyang
bertemu angin mayang yang mengurai bayang-bayang
seperti angin di hari kuburmu bermusim-musim lalu

terhina pada cinta manusia yang telah hilang
seperti dedaunan kering terinjak jejak demi jejak
jejak manusia liar primitif berkelambu hijau
tangan-tangan kotor, api membakar ragamu

mataku panas, darah getah kering di pipiku jatuh
kedalam kuburmu kupendam segala dendam
pada tentara-tentara pengawal negara
yang menebang pohon keluarga anak negeri

aku hidup, bapak - seperti ilalang padang
bermandi matahari, menghirup udara di sekitarmu
menangkap ketakutan dan nyeri berperisai api
mendengar bisik dedaunan nyanyi rindu ibu negeriku

aku pamit, bapak - hari sudah tinggi


090510

Malam Akhir

di tepi kubur menjelang ajal
berkeliaran orang menangkap matahari
mereka terlambat belajar terbang
untuk lampiaskan duka cita dunia
sementara asap memutih di wajahnya


050510

Pohon Bulan Kuning:

: semanggi' 98

Ada siang yang terang di jalan panjang
menguncup di ujung pelataran bulan kuning
seperti matahari melipat semua jemarinya
tanah resah telah tinggalkan jejak darah

Kasih berada dalam torehan hati di kata
seperti air di tanah menguap di udara
dan kaki menginjak pasir panas yang garang
memanggang pahit empedu asap kalbu

Bau amis darah masih melekat erat
pada getir silam bekas kaki melangkah
berjalan lewat pohon-pohon tak bernama
tempat bulan kuning telah menunggunya

110510

Suaramu

bukan angin atau udara yang seperti kau gambarkan
menandakan kau ada meski tak ada sepandangan
dia tak pernah kelelahan untuk bertahan di dahan
seakan tempat kita bisa bernafas perlahanlahan

aku inginkan dirimu membuat angin yang diam
mendengar dan melihat sampai dia terpejam
sampai tiba saat gelap menggamit malam
dan aku mengerti engkau tak pernah kejam

aku cuma ingin mendengar suaramu
221010

Sepotong Kalimat

bundaku pergi tinggalkan sepotong kalimat
dan kusemat kuat di tingkah langkahnya angin
membawaku ke ayunan gelombang samudra
berpijar bintang berganti surya hari menyala

waktu laut berwarna merah, aku kehilangan arah
jubahku wangi seperti hati akan pergi dan mati
kalimat yang tersemat kudengar erat di telinga
cepatlah pergi sebelum tahun membakar lautan
221010