Kamis, 18 November 2010

Di Utara Negeri Ini

angin laut kencang hujan datang sebentaran
kugenggam payung dan ia terbang melayang
jatuh menyapa jalanan di sore yang lengang
tawaku gamang berkejaran dengan angin dingin

puisi laut para kelasi terdengar dari rumah kopi
aku berdiri di atas tanah datar menutupi lautan
di kota kecil utara negeri pada musim daun jatuh
dimana kabut datang dan pergi ketika bibir terbuka

dimana lagi akan kucari jendela besar berkaca lebar
melihat bunda dan kedua putri duduk membaca puisi
sambil minum creme de menthe atau rose wijn
sementara angin kencang mabuk bergoyang-goyang

Yasmin

bermain gendong kuda,yasmin
ketika rambut kita ekor kuda
di halaman belakang rumah nenek
saat pohon jambu berbunga penuh
masih berbalut piama di hari minggu
sambil memendam segenggam rindu
pada rumah kita di belakang roxy itu

hari minggu adalah hari kita
bebas dari meremas-remas hati
masuk ke dalam gua buatan sendiri
dii bawah kursi malas dari rotan
tempat kakek setiap pagi pukul tujuh
membaca koran sambil minum kopi

harihari kita adalah hari meraut wajah
menipiskan daun telinga merapatkan bibir
hari getir ketika mendengar caci maki
bagai suara petir di siang meregang hari
lalu kita berdekap bagai terperangkap

dan bertahun setelah itu kita berpisah
bagai anak-anak yang kalah dan lelah
kita kehilangan ayah dan ibu rahim jiwa
aku kehilangan yasmin di seberang benua

MERAH

rumah besar berubin merah
rumah nenek dengan sejarah
tempat darah tak lagi merah
ketika tentara amuk menjarah

dua guru perempuan dirampas
usianya muda panjang napas
mereka membawanya ke markas
dengan tuduhan merah tak jelas

tentara tak pandai berkata nyata
cuma pandai menyiksa di penjara
atas nama perintah dan singgasana
balada penumpasan sebuah bendera

sejarah merah di rumah berubin merah
cerita tak hilang di sepanjang jazirah
hukum dan keadilan bukan lagi masalah
bau anyir sepanjang sungai yang terbelah

Lelaki Bulan dan Kokok Ayam

ayam berkokok di malam kemarau
ketika lelaki itu datang ke rumahmu
membelai bulan yang tak henti bersolek
seakan esok telah datang hari berkawin

sampai jarum jam patah berderit di langit
bulan jatuh tertidur mendengkur di lumpur
gaunmu tercerai di hari terang tanah
seakan esok telah datang hari berkawin

Perempuan Pemecah Batu

sudah seminggu perempuan mengurut dada
yang menyimpan cerita rentetan waktu
memendam kalam kelam di bawah tilam
tempat ia tidur ngelindur pada mimpi kabur
melebur di saratnya penat rantai umur
sepanjang menjumlah luas jalan ke kubur

sudah seminggu perempuan mengurut dada
yang berteriak pilu seperti palu memukul batu
ingin membeku di dalam nisan tinggalkan pesan
di sini terbaring aku perempuan tak bertuan
pemecah batu di sepanjang lakon zaman
berganti peran di ujung lentera perjalanan

Tak Pernah Ingat Lagi

Mungkin tak pernah kau ingat lagi
di jelang senja perbatasan kota
bicara tentang negeri yang ngeri
ingin patahkan terali tirani
ingin tegakkan kesetaraan

Mungkin tak pernah kau ingat lagi
jaket almamater kebanggaan diri
di terik siang menggapai mimpi
lengking orasi lenyapkan korupsi
memburu tikustikus berdasi
menggapai mimpi demokrasi

Mungkin tak pernah kau ingat lagi
keinginan membela petani nelayan
angkat harkat martabat rakyat melarat
mengajak mereka lari lebih cepat
dan mereka terengah-engah berkeringat
di belakangmu yang ternyata bangsat

Aku Mesti Pergi

kembali ke kotamu yang dulu
wajah lugu malam termangu
memilah-milah tumpukan buku
pada sebuah ruang berdebu

tak ada lagi ruh yang bersamamu
seperti ceritamu tentang abu rindu
di dalam wadah tembikar biru
ketika butir tuturmu satu di situ

aku mesti pergi meski memaku
sisa malam yang lalu telah beku
kuambil satu buku pemberianmu
perjalanan kita yang telah lalu

Menulis Untukmu

:selamat ulang tahun abe

menulis untukmu sama dengan satu perjalanan
tak mudah meski ada derai tawa dan kata di pelataran
ke langit berlapis awan kita menggantang pengharapan
elegi harihari adalah tetes hujan rampak gemuruh petir
menepikan berkas cemas meretas jerumat tirai kelabu

menulis untukmu sama dengan satu keyakinan
tak mudah meski ada jejak tertinggal di halaman
ke padang rumput hijau kita membentang kehidupan
bait bait kata adalah puisi tak berima sebuah perhentian
menunggu hari esok di sini di gugurnya dedaunan

BATAL

merpati putih menanti di gerbang megah kathedral
menyambut mempelai mengusung janji dua pribadi
menuju altar bermandi kembang casablanca yang wangi
mengharap sehidup semati sampai maut memisahkannya

seorang perempuan berlari-lari kecil menyapu peluh
kakinya telanjang melewati lorong panjang gereja
" lelakimu masih lelakiku meski ia tak lagi cintaku !"
demikian teriaknya tersendat di dalam isak yang genap

merpati putih terbang terantuk gerbang megah katedral

Kau Mengira Diriku Telah Mati

dengan apa kumencarimu di jaman kaki tak cuma berpijak di atas tanah
dengan kuda pedati atau kuda besi dengan ikan lumba-lumba atau bahtera
di daratan berbatu bergunung berlembah atau di samudra diam dan bergelombang
di langit berkepak sayap-sayap menuju segala penjuru menyapu awan berkawan

di malam kedua belas seperti viola mencari saudara kembarnya ke benua sana
teriak yang membahana ke seantero semesta tak pernah terdengar telingamu
karena telah kau cungkil kedua gendang telingamu agar kita tak lagi sama
maka kutukar busana keabadian di malam kedua belas merasuk ke dalam mimpimu

dan aku tetap mengenalmu seperti sebastian dalam selimut tidur sutera kehangatan
meski sepi yang ranum telah menepis wajahmu dari bayangan masa kecil dahulu
meski engkau telah menabur rangkaian bunga kematian di tujuh samudra untukku
aku tak pernah berpikir kau telah sirna di batas cakrawala ketika langit terbelah

bertahun-tahun dari setiap malam yang kedua belas aku bertemu dirimu di sini

Penjunan

ia membentuk dirinya setelah hari itu ketika rona bulan pias
selembar angin menyibak selapis putih kulit jangatnya
yang menyala-nyala karena api pada bintang bintang
tiba-tiba membakar apa yang dinamakan kain selubung

ia tidak pernah ikut sebuah perkumpulan orangorang majus
yang mendapat tanda dari cahaya bintang entah di sebelah mana
dan serta merta ia mengibaskan telapak tangan berbintang lima
lalu berperang di udara sejamahan kedua tangan menolak segala api

ia menolak untuk dibakar apalagi membakar dirinya demi apa pun juga
sebab ia tahu tak semakhluk pun yang pernah melihat wujudnya
di dalam kain selubung meski cuma selapis tipis menutupi tubuh
ia menyelam ke dalam kobaran api ketika bulan tenggelam

ia telah membentuk dirinya dengan kedua tangannya seperti seorang penjunan

Perempuan Daun Yang Liu

mengelupas warna biru di dinding beranda rumah seorang perempuan
yang tubuhnya tiada ada berpagar tegar dan kehampaan bagai kelanggengan
di kursi bambu yang telah berpecah di ujung lelah ia duduk merajang hari
tak lagi ada rasa sakit memandang bilahbilah pelepah bambu yang melekat
ketika ia mengenal dengan kental siapa lelaki berkulit matang matahari
yang pernah menyamak kulit bulan saat purnama belum lagi sempurna

gemerisik daun yangliu nyanyikan hari merdeka

Di Sebuah Malam

perempuan tua merampungkan simpul temali lusuh
malam renta pelita temaram melipat tilam masa dara
tinggalkan bilik tertatih-tatih mengeja ujung kehidupan
menuju makam tanpa bunga

Sejarah Yang Ditulis Di Bulan Merah

adakah engkau masih mengenal sebuah musim yang sedang bertamu di rumahmu
engkau telah membuat dinding meski batas kelahiran dan kematian ada di jemari kita

kemarin kemarau sedang ramah namun meremah hati pengelana di jalan berangin
kita masih memetik buah yang semakin jarang terlahir dari pohon yang patah ranting

adakah engkau dan kita menjadi perempuan yang terjerat pengerat rakyat melarat
telah singgah segala hujat dan selimpah berkat dan semestinya kita semua menjadi kuat

jangan tinggalkan kami dengan sejarah yang tertulis di bulan merah dan pedang pelangi
sebab sebenarnya mereka telah menjarah dan memendamnya di tanah asam sisa negeri

Aku Di Sini, Mak.....

Mak, berpuluh tahun lalu ketika negeri ini menepikanmu
entah seberapa airmata menguap lewati tabung kepedihan
bapak sakit setelah siksa dunia melalui tangan tentara tak berjiwa
lalu kita mengais harapan meski di tanah getir tempat berpijak

Mak, akhirnya kau pergi menjangkau dunia yang tak selebar daun
katamu, akan kau bawa bapak untuk mencari pepulih jiwa dan badan
namun dia tak bertahan karena tanda luka tak jua sirna, tak berdaya
engkau tak kembali memijak tanah negeri karena ngeri dan nyeri

Mak, aku di sini..tetap di sini melihat jaman berlalu dan hidup sendiri
menyisihkan pundipundi hati dari ketakutan dan perbuatan mereka
menyirami pohon kehidupan meski daunnya sering gugur dan ranggas
aku hidup, Mak...tak takut lagi....

Nyawa

dan betapa riuh suara kanakkanak ketika
untaian merjan yang ditelan kepala angin
sisakan sebaris bayang yang memanjang
sampai di tepian rawa berselimut gulma

suara kaki telanjang berkejaran lompati batuan
kehampaan meringankan penglihatan ke depan
jemari tangan bermain harap pada nyala bara
kulit mengisut bibir kering bergelayut

mimpi yang hanyut....

Sehelai Kertas

: kerabat yang hilang

menuntut ilmu sampai ke negeri cina, matamu tak lepas dari katakata
melantun nyanyi sampai ke sungai huang ho seturut liuk aksara
engkau bermimpi datang di tanah daratan bertemu kampung leluhur
berbaur pada ilmu dan budaya melarut di darah menyatu pada nyawa

namun tak ada daya bapakmu melipat sehelai kertas tak bernilai
dari kota di kaki gunung pangrango keluarga pergi mengungsi
lautan api amuk pemuda negeri yang kepalanya tak berarti
maka hilanglah segala mimpi yang hampir mewujud saat kau sujud

engkau lelaki pertama di keluarga merasa tak lagi bernegara
hina betul darah kelana yang mendarat di tepi lautan kehidupan
sesal datang karena lahir bukan kemauan dan datang penderitaan
maka telunjukmu bagai tak berjangat ketika merebahkan pilihan

di atas kertas telah datang keputusan tanpa keinginan
karena mimpi masih berkejaran dengan keadaan rawan
kebingungan pada angan pun telah dirampas pergolakkan
maka jasadmu diam terbaring di kamar seorang biarawan

Sayap Angan

di laci meja tempat kau bertutur di atasnya
telah kau simpan sayap angan dalam gambar
tentang sebuah negeri di tengah telaga warna
yang tetap ada setiap angin berganti arah

di laci meja tempat jarimu lepas bebas di atasnya
telah kau simpan musim semi di tahun yang lewat
tentang bunga mei hua di sepanjang kaki bukit
yang jatuh gugur ketika angin mengejar angan

*
kau pernah ada dan duduk di sini waktu silam
aku melihatmu bersayap angan dan terbang

Selamat

selamat pagi
bumiku penuh ragi
kontaminasi

selamat siang
matahariku buta
air hujan yang asam

selamat sore
ketinggalan kereta
deretan angka

selamat malam
bulan retak seribu
sakit kepala

Topeng Matahari

:seorang petani menggantung diri karena gagal panen

membangun subuh ketika telinga mendengar tipis panggilan ayam kepada matahari
dan bulan berlari ke rumahnya lewati ladang jagung yang telah rela poranda
maka tepuk riuh semesta menghidupkan tanah kering dan semaian yang masih tidur
memerah wajah wajah tirus dan pucat memandang matahari tak lagi bertopeng
dan setiap pori kulit merasakan angin semakin condong bertiup kencang ke barat
cahaya semakin terang di atas sawah yang baru ditanam kembali setelah panen sirna

seberkas sinar mengangkat tubuh penggarap yang masih tercekik oleh paceklik
tali pengikat kerbau terlepas dari lehernya dan bergetar di atas tanah bergenang
dan tibatiba tanpa bantuan angin telah terbang entah kemana perginya sebuah tali
mungkin terbang lalui udara cakrawala dimana pun di atas tanahtanah retak dan kering
mungkin tak perlu lagi tarian untuk mengundang hujan atau mengusir badai
sebab matahari telah telanjang di atas bayang kaki telanjang

mungkin tanah dan nyawa harus mati sebelum hidup
tanpa topeng
tanpa tali

Bicara

kau berpikir apa ketika dia memerlukanmu untuk bicara
sedang dia tak bisa lagi bicara seperti orang berkatakata
mungkin tentang meranah di tempat yang tak lagi biasa
atau tentang sebuah luka bernanah yang semakin parah

di kamar beranjang dua kubersamanya setiap lelahku puncak
tak pernah jua dia bicara meski membuka kedua matanya
aku hanya melihat tubuh kurus yang terbaring tanpa bertanya
kumerasa dia akan melihat diri ibu bila aku mau menyapanya

aku tak pernah diundang bersamamu dan dia dalam bicara
karena dia tahu aku bukan gadis yang seperti dia mau
yang tumbuh dalam serapah dan menyampah akibat sumpah
dia bicara padamu karena rasa bersalah dan aku tak menangis

(berpuluh tahun setelah dia pergi, kau baru bicara padaku)

Dalam Kenangan

dinihari kembali menjemput gelap dan mereka kembali di ambang hidup sehari lagi
berlari tak lagi mesti sebab irama sudahlah pasti pada nada yang sama setiap hari
setiap hembusan nafas yang tertinggal di tempat tidur adalah pulau pulau mimpi

tarian gunung dan lembah di kakikaki basah menyentuh cinta embun yang lugu
mereka berharap gunung gunung masih menyisakan emas dan perak di rentang kehidupan
meski jauh dari kotakota yang empuempunya telah mati rasa pada alam semesta

ketika matahari membuat bayangan pertama di gunung yang mereka daki
mereka hilang begitu saja pada saat angin mati dan pepohonan kering
pulau pulau mimpi melayang di bekunya angin,air mata turun dari gununggunung

Cepatlah

sungai telah menjadi kering di musim yang tak menentu
segenggam pasir adalah sekehidupan dalam takdir
demikian kata tertulis di dinding sepanjang lorong
negeri tempat kita lewati pagi menuju ambang senja kala

kita menyingkir dengan merangkak seberangi sungai
merintih perih karena burungburung punya sayap
bukan karena menyangkal diri berpunya dua tangan
yang katanya berguna untuk menguak takdir

di tanah ini dosadosa berdiri seperti pepohonan tinggi
tumbuh subur dengan airmata dan keringat kita
cepatlah tiba di tanah yang dijanjikan sejak  lahir
sebelum darah kita mengental dan terasa getir

I HAD BEEN HUNGRY -Emily Dickinson

I had been hungry all the years;
My noon had come to dine;
I, trembling, drew the table near,
And touched the curious wine,

"Twas this on tables I had seen,
When turning, hungry, lone
I looked in windows, for the wealth
I could not hope to own

I did not know the ample bread;
"Twas so unlike the crumb
The birds and I had often shared
In Nature's dining-room

The plenty hurt me,'twas so new,-
Myself felt ill and odd,
As berry of a mountain bush
Transplanted to the road.

Nor I was hungry; so I found
That hunger was away
Of persons outside windows,
The entering takes away.

Gadai

kepada hidup kalian gadaikan rupa manusiaku
ketika kalian bermeterai maka aku ada seadanya
kalian telah abai menebus manusiaku
meski dengan setangkai bunga bangkai
rupaku...

Tentang Kita

mengeja kata sejak dini ketika kau tinggalkan cerita panjang di tempat ini
alangkah sulit menata kata menjadi kalimat demi kalimat hingga kumengerti
hari hari bagai rangkaian gerbong kereta yang memuat semua ingatan
yang sering jatuh lalu kutinggalkan, tergilas roda dan debu jalanan
aku butuh buku tebal yang dapat bercerita halaman demi halaman
tentang kau dan aku
yang diam dan dibaca

Mey ( Cerpen yang dimuat di Jurnal Perempuan Edisi 68)

Mey tidak mengerti arti kematian. Dia cuma pernah melihat jasad neneknya ketika berusia sembilan tahun. Takut melihat orang yang tidak bergerak terbaring di tengah ruang tamu yang besar dan berubin merah. Takut kalau-kalau nenek bangun dan mengajaknya bermain dakon seperti hari-hari kemarin.

Setelah pemakaman, Mey baru sadar kalau ia tak akan bertemu lagi dengan nenek yang selalu menggamit tangannya ketika orang tuanya bertengkar hebat. Pasti bermain dakon atau menggunting-gunting kertas untuk ditusuk ke sebatang lidi dan jadilah sate kertas. Nenek akan segera menutup pintu kamar agar suara suara bentakkan tidak terdengar menghentak-hentak. Nenek akan segera bernyanyi dalam Bahasa Belanda yang tidak Mey mengerti. Esok pagi ketika Mey bangun, ia masih mendapati nenek tertidur di sampingnya.

Ibu Pergi. Mey membawa nenek dari makam sebelum ia diantar paman masuk ke asrama sekolah tempat ia akan tinggal. Ayahnya terbaring sakit, Ibu pergi ke seberang benua untuk bekerja.Ia ingin nenek menemaninya seperti dulu ketika rasa cemas datang dan rasa sendiri begitu sepi.Ia membungkam dalam keramaian. Ia hanya berteman nenek dalam tidur dan mimpi dan khayalnya. Nenek mengajarinya matematika yang ia benci. Nenek mengajarinya mencuci baju dan menggosok bajunya. Nenek bernyanyi setiap malam sebelum ia tidur. Masih dengan nyanyian yang tidak ia mengerti, tapi suara nenek merdu dan lagunya indah.

" Nenek akan membawamu, Kamu mesti pandai dan cepat selesai sekolah. Nenek akan membawamu ke tempat ibu bekerja. Setelah itu nenek akan menemani ayahmu yang sakit," begitu nenek berkata dalam mimpi Mey tadi malam.Mey memberontak dalam hati. Ia tak ingin tinggal bersama ibu, hanya ingin bersama nenek. Ia ingin tahu dimana nenek tinggal. Ia tahu di rumah nenek tidak ada riuh ramai seperti di asrama. Ia tahu di sana ia tidak akan cemas dan sendiri.

Ayah Pergi.Mey berhasil jadi juara kelas. Itu berkat nenek. Mey ingin segera pergi dari asrama. Ia ingin terus bersama nenek. Tapi ia harus bersama ibunya, harus melanjutkan sekolah di Belanda." Bagaimana kalau ibu marah padaku ? Bagaimana kalau ibu memukulku ? Kemana aku harus lari ? Bagaimana kalau ibu dengan seorang lelaki yang tidak aku kenal ?" Mey berkata-kata terus di dalam hati. Batinnya kacau. Kali ini ia tak mau bertanya pada nenek. Ia diam, lebih diam dari hari-hari yang memacunya untuk segera meninggalkan asrama.

Suara ketukan pintu terdengar oleh Mey yang sedang membenahi kopornya. Ibu asrama membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu." Mey, cepat benahi pakaianmu untuk beberapa hari ! Pamanmu datang menjemput !" katanya sambil membelai rambut Mey yang sudah sepanjang bahu.Mey segera saja menutup kopor kecil yang sudah penuh. Mengangkatnya dari tempat tidurnya sambil berkata: " Sudah saya benahi, Bu ! Nenek akan mengantarku ke tempat ibu".

Ibu asrama terhenyak. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan Mey. Ia hanya ingin memberitahu bahwa ayah Mey telah meninggal di rumah sakit. Tapi suaranya tak dapat keluar sampai Mey berlalu dari hadapannya.

Mey Menangis.Mey dan pamannya tiba di ruang jenazah. Ayahnya terbaring diam dalam pakaiannya yang bersih dan rapih. Kemeja putih dengan dasi kupu-kupu hitam. Sepatunya kulit dan masih berbau baru. Mey suka sekali bau kulit yang baru. Ayahnya pernah membawakan sepatu kulit dari Jerman ketika ayahnya bertugas di sana sebagai jurnalis. Tak henti ia mencium-cium sepatunya, bukan karena gembira mendapat sepatu baru, tetapi karena ia memang suka sekali dengan bau kulit.

Air mata Mey segera mengalir satu-satu di pipinya yang putih seperti warna pipi ayahnya. Hanya saja pipi ayahnya kelihatan cekung. Ketika Mey membelainya, pipi itu terasa dingin. Mey tidak ingat kapan ia menyentuh pipi ayahnya. Ia hanya mengingat cambukan ayahnya dengan ban pinggang kulit sewaktu Mey ketahuan merobek halaman buku ensiklopedi milik ayah. Mengingat semua itu, Mey baru sadar kalau ia terbebas dari rasa sakit yang amat sangat lama. Ia menangis sejadi-jadinya.Kerabat lain mengira kalau Mey sangat sedih ditinggal ayahnya. Mereka ikut menangisi keadaan Mey yang tak didampingi ibunya. Mereka ingat nenek yang mencintai Mey dan kini Mey ditinggalkan sendiri.

Aku Sendiri.Selesai sudah. Pemakaman ayah tidak berbeda dengan pemakaman nenek. Aku senang karena nenek menemani ayah. Semoga ayah tidak pernah memukul siapa pun di rumah nenek.Semoga ayah tidak mengajak nenek bertengkar karena hal-hal sepele. Ayah mesti menghormati nenek. Aku tahu nenek lembut hati dan bijak, nenek lebih mengerti bagaimana menghadapi ayah, anak nenek sendiri.

Aku masih mendengar suara nyanyi nenek di malam hari menemaniku ke peraduan. Bedanya kini aku mengerti apa arti lagu itu, lagu yang satu dan sama itu. Aku sudah mengerti Bahasa Londo, Nek ! Aku di sini, dekat dengan kincir angin dan sungai kecil, ada juga gugur daun kekuningan di rerumputan dingin. Suara nenek terdengar terus di sini, dalam kesendirianku setelah ibu dibawa seorang lelaki bule ke utara negeri ini. Nyanyian nenek membuat aku hidup, membuat aku ingin hidup...." lieve kleine meisje, ik hou van je....."

Membawa Ibu
ibu,seperti padi yang baru tumbuh aku rapuh
bercermin di genang air diam aku bersimpuh
menguatkan serabut agar kaki tak lumpuh
mencari air kehidupan di percikan subuh

ibu,aku meruing pucuk mimpi menenun hari
irama lagu embun di daun-daun kenari
tetesnya tergelincir jatuh dari buku jemari
tanahku kering tak berjejak kaki menari

ibu,lautan sepi sauh bertolak sendiri
senja telah berlabuh di pangkuan hari
air laut tak pernah surut oleh matahari
namun dimana engkau harus kucari

ibu,angin tak lagi bawa wangi air susumu
di pudar kain batik trusni pemberianmu
selapis nyawa akan pergi berlalu
bertemu dengan ribuan biru rinduku 

Gravitasi

berkehidupan seperti mengejar burung terbang ke atas bukit dan hilang
lalu berayun turun melewati dua jurang yang ditelan kegelapan
gravitasi sepanjang perjalanan adalah kelaparan dan ketelanjangan
dan hembusan nafas itu adalah keajaiban
membumbung tinggi memecah awan rawan
seperti bulu burung burung yang jatuh di daun jati
angin memacu sayapsayap terbang untuk kembali
jejakjejak kaki di tanah hitam
sebentar lagi dingin mencekam
terekam badan
jatuh dan hilang

Negeri Yang Ajaib

O, Aliceku yang cantik,bermahkota segala
hanya dirimu yang akan kutemui di jantung kota
bunyi nafiri di penjuru desa memanggilku
perintah perempuan pendamping tahta
yang mimpinya sepenggapai tangan

O, Aliceku yang cantik bermahkota segala
kuda terbang telah membawamu ke seberang
negeri tanah madu kepunyaan sipemalu rindu
lelaki tampan berjubah biru pemegang cakrawala
yang cambuknya tersembunyi di belakang tubuh

O, Aliceku yang cantik bermahkota segala
tak ada kuda terbang tak ada burung bersayap
kucoba berjalan dari negeriku berlimbah sampah
yang airnya coklat bagai kopi irlandia utara
aku jatuh di depan istana kembang gula
beralas dongeng sepanjang mimpi

Setelah Mesedih

adalah perempuan yang berdansa setelah banyak kesempatan
bagi perih yang bodoh dan catatan nasib yang dianggap takdir
kemiskinan adalah sebuah hidup dalam rombongan kesombongan
kepenuhan bukan lagi istiadat yang mesti padat ketiada taraan
adalah kesalahan memberi ruang dansa ajaran Nietzsche
bukan, perempuan bukan sebuah peliuk tubuh lalu rubuh
lelaki cuma berpeluh lalu mengeluh dan duduk di atasmu
memegang kemaluannya dan merasa utuh

terlalu mudah untuk mesedih sewaktu sayatan merobek pedih
lelaki pincang mengguncang kesombongan sendiri di berahinya
mengapa berkedok kerudung sebagai pelindung hari rundung
membungkus adat, menata wajah, membiarkan terjajah
membiarkan bau tubuh menjalar kepada perempuan lain
seolah istimewa adalah liar yang dibuka lebar menghisap wangi
membiarkan setetes demi setetes liur mengalir ke perempuan parit

telanjanglah dan berdansalah sebelum lelaki lupa berbusana
setiap kita sedih dan kami tak mau mesedih lagi
mereka akan berdansa seperti yang telah diajarkan
begitu yang ada

Menggiring Mereka

aku telah menghidup di rimba ini
di bawah monas di depan istana
di kakus gedung gedung tinggi
yang limbahnya melayahlayah
menutup jalan jalan ibukota

kau berkata aku telah bunuh diri
di kota besar yang menjadi bongkah
amarah sumpah serapah membuncah
bukan, aku bukan sesiapa di ini jakarta
dalam kata dalam hidup yang remeh

aku hidup dalam kasta strata biadab
yang mulutnya ngaco berpidato
seperti berjenisjenis hewan lapar
lalu aku menggiring mereka dengan tambur
membawa ke kubur yang amat subur
menidurkan yang hidup
menghidupkan yang mati

Pendek Saja

*Lewat
karena rindu telah mekar maka kita jumpai waktu
duduk di depan perapian batu lewati musim dingin
percikpercik bunga api tak lagi sebuah jawaban
karena rindu telah kita bakar di tungku biru

*Diam
angin tak mungkin mati
mungkin hanya diam
seperti hidup yang mati

*Ibu dan Anak
anakmu bukan milikmu
anak panah punya busur
anak ibu punya jalan
ibunya anak berkubur

*Bapak dan Anak
bapak tidak melahirkan
bapak dilahirkan
bapak lupa punya anak
bapak suka bikin anak

*Dosa
berdiri seperti pohon
berbuah kesah resah
jatuh di getir tanah

*Bulan
di bulan merah
mereka menggurah
sejarah berdarah

*Natal
ia sudah gagal
terjagal total
di palungan

*Raja
aku anak raja
engkau anak raja
dimana ibuku ratu?