Kamis, 18 November 2010

Kau Mengira Diriku Telah Mati

dengan apa kumencarimu di jaman kaki tak cuma berpijak di atas tanah
dengan kuda pedati atau kuda besi dengan ikan lumba-lumba atau bahtera
di daratan berbatu bergunung berlembah atau di samudra diam dan bergelombang
di langit berkepak sayap-sayap menuju segala penjuru menyapu awan berkawan

di malam kedua belas seperti viola mencari saudara kembarnya ke benua sana
teriak yang membahana ke seantero semesta tak pernah terdengar telingamu
karena telah kau cungkil kedua gendang telingamu agar kita tak lagi sama
maka kutukar busana keabadian di malam kedua belas merasuk ke dalam mimpimu

dan aku tetap mengenalmu seperti sebastian dalam selimut tidur sutera kehangatan
meski sepi yang ranum telah menepis wajahmu dari bayangan masa kecil dahulu
meski engkau telah menabur rangkaian bunga kematian di tujuh samudra untukku
aku tak pernah berpikir kau telah sirna di batas cakrawala ketika langit terbelah

bertahun-tahun dari setiap malam yang kedua belas aku bertemu dirimu di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar