Kamis, 18 November 2010

Mey ( Cerpen yang dimuat di Jurnal Perempuan Edisi 68)

Mey tidak mengerti arti kematian. Dia cuma pernah melihat jasad neneknya ketika berusia sembilan tahun. Takut melihat orang yang tidak bergerak terbaring di tengah ruang tamu yang besar dan berubin merah. Takut kalau-kalau nenek bangun dan mengajaknya bermain dakon seperti hari-hari kemarin.

Setelah pemakaman, Mey baru sadar kalau ia tak akan bertemu lagi dengan nenek yang selalu menggamit tangannya ketika orang tuanya bertengkar hebat. Pasti bermain dakon atau menggunting-gunting kertas untuk ditusuk ke sebatang lidi dan jadilah sate kertas. Nenek akan segera menutup pintu kamar agar suara suara bentakkan tidak terdengar menghentak-hentak. Nenek akan segera bernyanyi dalam Bahasa Belanda yang tidak Mey mengerti. Esok pagi ketika Mey bangun, ia masih mendapati nenek tertidur di sampingnya.

Ibu Pergi. Mey membawa nenek dari makam sebelum ia diantar paman masuk ke asrama sekolah tempat ia akan tinggal. Ayahnya terbaring sakit, Ibu pergi ke seberang benua untuk bekerja.Ia ingin nenek menemaninya seperti dulu ketika rasa cemas datang dan rasa sendiri begitu sepi.Ia membungkam dalam keramaian. Ia hanya berteman nenek dalam tidur dan mimpi dan khayalnya. Nenek mengajarinya matematika yang ia benci. Nenek mengajarinya mencuci baju dan menggosok bajunya. Nenek bernyanyi setiap malam sebelum ia tidur. Masih dengan nyanyian yang tidak ia mengerti, tapi suara nenek merdu dan lagunya indah.

" Nenek akan membawamu, Kamu mesti pandai dan cepat selesai sekolah. Nenek akan membawamu ke tempat ibu bekerja. Setelah itu nenek akan menemani ayahmu yang sakit," begitu nenek berkata dalam mimpi Mey tadi malam.Mey memberontak dalam hati. Ia tak ingin tinggal bersama ibu, hanya ingin bersama nenek. Ia ingin tahu dimana nenek tinggal. Ia tahu di rumah nenek tidak ada riuh ramai seperti di asrama. Ia tahu di sana ia tidak akan cemas dan sendiri.

Ayah Pergi.Mey berhasil jadi juara kelas. Itu berkat nenek. Mey ingin segera pergi dari asrama. Ia ingin terus bersama nenek. Tapi ia harus bersama ibunya, harus melanjutkan sekolah di Belanda." Bagaimana kalau ibu marah padaku ? Bagaimana kalau ibu memukulku ? Kemana aku harus lari ? Bagaimana kalau ibu dengan seorang lelaki yang tidak aku kenal ?" Mey berkata-kata terus di dalam hati. Batinnya kacau. Kali ini ia tak mau bertanya pada nenek. Ia diam, lebih diam dari hari-hari yang memacunya untuk segera meninggalkan asrama.

Suara ketukan pintu terdengar oleh Mey yang sedang membenahi kopornya. Ibu asrama membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu." Mey, cepat benahi pakaianmu untuk beberapa hari ! Pamanmu datang menjemput !" katanya sambil membelai rambut Mey yang sudah sepanjang bahu.Mey segera saja menutup kopor kecil yang sudah penuh. Mengangkatnya dari tempat tidurnya sambil berkata: " Sudah saya benahi, Bu ! Nenek akan mengantarku ke tempat ibu".

Ibu asrama terhenyak. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan Mey. Ia hanya ingin memberitahu bahwa ayah Mey telah meninggal di rumah sakit. Tapi suaranya tak dapat keluar sampai Mey berlalu dari hadapannya.

Mey Menangis.Mey dan pamannya tiba di ruang jenazah. Ayahnya terbaring diam dalam pakaiannya yang bersih dan rapih. Kemeja putih dengan dasi kupu-kupu hitam. Sepatunya kulit dan masih berbau baru. Mey suka sekali bau kulit yang baru. Ayahnya pernah membawakan sepatu kulit dari Jerman ketika ayahnya bertugas di sana sebagai jurnalis. Tak henti ia mencium-cium sepatunya, bukan karena gembira mendapat sepatu baru, tetapi karena ia memang suka sekali dengan bau kulit.

Air mata Mey segera mengalir satu-satu di pipinya yang putih seperti warna pipi ayahnya. Hanya saja pipi ayahnya kelihatan cekung. Ketika Mey membelainya, pipi itu terasa dingin. Mey tidak ingat kapan ia menyentuh pipi ayahnya. Ia hanya mengingat cambukan ayahnya dengan ban pinggang kulit sewaktu Mey ketahuan merobek halaman buku ensiklopedi milik ayah. Mengingat semua itu, Mey baru sadar kalau ia terbebas dari rasa sakit yang amat sangat lama. Ia menangis sejadi-jadinya.Kerabat lain mengira kalau Mey sangat sedih ditinggal ayahnya. Mereka ikut menangisi keadaan Mey yang tak didampingi ibunya. Mereka ingat nenek yang mencintai Mey dan kini Mey ditinggalkan sendiri.

Aku Sendiri.Selesai sudah. Pemakaman ayah tidak berbeda dengan pemakaman nenek. Aku senang karena nenek menemani ayah. Semoga ayah tidak pernah memukul siapa pun di rumah nenek.Semoga ayah tidak mengajak nenek bertengkar karena hal-hal sepele. Ayah mesti menghormati nenek. Aku tahu nenek lembut hati dan bijak, nenek lebih mengerti bagaimana menghadapi ayah, anak nenek sendiri.

Aku masih mendengar suara nyanyi nenek di malam hari menemaniku ke peraduan. Bedanya kini aku mengerti apa arti lagu itu, lagu yang satu dan sama itu. Aku sudah mengerti Bahasa Londo, Nek ! Aku di sini, dekat dengan kincir angin dan sungai kecil, ada juga gugur daun kekuningan di rerumputan dingin. Suara nenek terdengar terus di sini, dalam kesendirianku setelah ibu dibawa seorang lelaki bule ke utara negeri ini. Nyanyian nenek membuat aku hidup, membuat aku ingin hidup...." lieve kleine meisje, ik hou van je....."

Membawa Ibu
ibu,seperti padi yang baru tumbuh aku rapuh
bercermin di genang air diam aku bersimpuh
menguatkan serabut agar kaki tak lumpuh
mencari air kehidupan di percikan subuh

ibu,aku meruing pucuk mimpi menenun hari
irama lagu embun di daun-daun kenari
tetesnya tergelincir jatuh dari buku jemari
tanahku kering tak berjejak kaki menari

ibu,lautan sepi sauh bertolak sendiri
senja telah berlabuh di pangkuan hari
air laut tak pernah surut oleh matahari
namun dimana engkau harus kucari

ibu,angin tak lagi bawa wangi air susumu
di pudar kain batik trusni pemberianmu
selapis nyawa akan pergi berlalu
bertemu dengan ribuan biru rinduku 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar