Kim telah melarung dirinya dalam jala bapak di laut debu dan aspal
tak ingin menjadi seorang lelaki yang cuma menadah masalah tak pecah
tak ingin menjadikan jalanan tempat ia dan bapaknya mengisap pahit candu
sejak kecil dahulu sampai masa memecah batu di hulu hamparan gedung seribu
Kantung pundi bapak hanya berisi aneka selongsong peluru tua
ada pula receh tembaga yang tak lebur dengan masa yang peluh
setelah dua tanda jasa menempel di dada yang belum anumerta
bapak cuma bercanda dengan lencana bermaya angan tak pernah nyata
Kim telah melarung bapaknya dengan lencana dan tanda jasa di rawa jiwa
tak ingin jadi prajurit kelana tak tentu rimba setelah tak punya lagi daya
memuntahkan candu yang ia sesap dari asap beracun dan recehan kumal
ia ingin melaut di samudra tempat kemiskinan dan kematian tak bertaut
9juni2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar