aku tersenyum sendiri di mendung hari siang
berjalan lewati sekolah di baranangsiang
suara serak kenek angkutan umum mengerak di udara
bocah bocah pembawa payung duduk di trotoar
kim menguliti daki di kaki hitamnya yang telanjang
entah berapa banyak daki lepas bercampur debu
mungkin setebal mendung di langit mewirit bulir hujan
hujan adalah makanan hangat dalam dingin yang basah
kim tersenyum ketika suaraku terdengar memanggil
ditepuk aduk kedua telapak tangannya yang kapalan
rambutnya warna surai jagung tak beraturan bentuk
gerimis panjang adalah sisir bertangan angin di kepalanya
kim datang hampiriku dengan sisa tawa canda di telinga
seperti hari-hari kemarin yang sama ia menolak ajakanku
hanya mencium tanganku sambil menerima rezeki sahaja
ia berlalu bersama angin yang membawa hujan di jalanan
8juni2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar