angin laut kencang hujan datang sebentaran
kugenggam payung dan ia terbang melayang
jatuh menyapa jalanan di sore yang lengang
tawaku gamang berkejaran dengan angin dingin
puisi laut para kelasi terdengar dari rumah kopi
aku berdiri di atas tanah datar menutupi lautan
di kota kecil utara negeri pada musim daun jatuh
dimana kabut datang dan pergi ketika bibir terbuka
dimana lagi akan kucari jendela besar berkaca lebar
melihat bunda dan kedua putri duduk membaca puisi
sambil minum creme de menthe atau rose wijn
sementara angin kencang mabuk bergoyang-goyang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar