:lapindo
Kumpulan makhluk di petak-petak besar sebuah peta negeri
Bergegas entah kemana, pada hari-hari bencana melanda
Sayap-sayap burung tak lagi berkepak di atas udara langit ini
Kudengar jerit tangis dan ragam bunyi binatang di belukar waktu
Tangan-tangan menadah ke atas, bergerak mendulang harapan
"Ya Allah jangan biarkan tongkat- tongkat ular menenggelamkan kami
Tanah kami dimasak api neraka lalu bergolak mengentalkan malam semesta
Menjadi sebuah lautan mati yang menampung tingkah polah keserakahan manusia
Siapa yang akan menjadi Musa kami untuk tinggal di tanah yang telah Kau janjikan
Tempat berpijak berhidup semua leluhur yang telah ditata untuk kebersamaan kami."
Tanah di Istana Merdeka tempat penguasa menjalankan negeri dengan para menteri
Tanah di Patra Kuningan rumah-rumah mewah istana pembantu negeri mengaku bestari
Adalah tanah-tanah tempat mereka mengurus negeri mengurus posisi mengurus diri
Tapi mengapa tak kalian perhatikan barisan rakyat yang mengantri di belakangmu
Dan dengan kejam telah kalian putus rantai kehidupan dari pusatnya negeri ini
Sampai hari ini kalian terus sibuk sejak pagi hingga subuh kembali, berisik bergonjang-ganjing
Berkejaran kian kemari memburu kodok-kodok yang melompat sampai tinggi lalu sikut sana sikut sini
Tak perduli sampai-sampai telah membolongi bahtera negeri dan jelatanya hanyut di lautan nyeri
Lalu sekoci-sekocimu kau arungkan ke seberang sana dengan emas-emas yang telah kau raup
Tanah yang telah dijanjikan untuk generasi kami telah menjadi peti mati tempat kami kubur sakit hati
Tanah ini menanti rajutan misteri tanganMu agar kupaham untuk apa mereka berdoa
Kudengar gelisah rakyat mengapa tak pernah berkesudahan derita dari manusia atas manusia
Maafkan aku tak mampu membela mereka orang-orang yang tertindas kuasa tak berbelas
Maafkan aku tak mampu berdiri tegak menebar benih-benih kehidupan bagi hak kaum papa
Jangan biarkan mereka tenggelam di sini dihantam panji-panji penguasa pengusaha keji
1juni2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar