: ibuku yang jauh, di renta usia
1
tuturku yang telah lama bisu
tak pernah beku dimakan waktu
mungkin tak sempat lagi dibaca ibu
namun tak pernah menjadi debu
hidupku bagai anak sesat air
mencari makna di tanah basah
ketika aku meradang di huma gersang
kau meremas cemas di seberang ladang
2
aku tak pernah berakar pahit padamu
di pohon keluarga yang masih ada
meski pernah terpangkas pucuknya
tak rebah lunglai jatuh ke tanah
matahari menggamitku setiap pagi
tirai hujan memagar angin kencang
aku bertumbuh dalam rimpang badai
ceruk hatiku semakin dalam dan landai
3
dalam jauh jarak hati dan raga
namamu kupanggil tanpa jeda
engkau ibu rahim tempatku jadi
senandung bisu gitaku menyawa
tangis kesumba sungai kecil di hulu
telah bermuara di masa tanpamu
riak-riaknya menyebut namamu pilu
dimana ibu air dahaga kehidupanku
4
putaran kincir angin membawa suaraku
datang ketika kau duduk di tepian sungai
di muka rumah kecilmu selatan amsterdam
saat menyelam di kalam sastra pustakamu
sebentar lagi angin kecil musim panas datang
bibirmu gemetar mengeja nama lahirku
wajahmu adalah diriku dan kasih tanpa kata
kita selalu terpisah namun satu dalam kisah
5
engkau adalah pakaian kehidupanku
sepanjang masa umurku di batas cakrawala
di jarak tanpa batas dunia yang penuh warna
yang kupakai kala badai mengepung selepas senja
kurindu jemari kuatmu yang lama tak kurasakan
aku di sini di pemondokan sunyi merindukanmu
bila tak ada lagi waktu bertemu di renta umurmu
cintamu tanpa kata adalah air dahaga hidupku
9juni2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar