Rabu, 22 Desember 2010

Mama

Kurindui mama di setiap hari, berjejak telapak kasih yang samar antara ada dan tiada di waktu yang telah lewat.
Telah kau berangkatkan dirimu menuju benua yang tak dapat kukayuh dalam tahun-tahun aku berhidup - Menjumpai kesamaran itu, Mama !
Di benua tempatmu berasal telah tertinggal pulau di antara begitu banyak pulau di hati yang samudra.
Dulu itu banyaklah kapal atau perahu kecil yang bersinggah lalu berpamit. Tak tinggalkan sesuatu apa pun kecuali sebuah pertemanan dan simpati yang kemudian hilang oleh kegaraman air laut dan tinggalkan karat yang kerap mengerat pintu

Kurindui engkau setiap hari dipecah rosario yang telah melukai jemari karena tak sudi bertaat pada kepenuhan seorang bunda maria yang teladan dan mengatakan terjadilah padaku menurut kehendakmu
Karena ini bukan kehendakmu, mama
bukan pula kehendakku yang masih ingin merinduimu
dalam samar dalam cemar dalam memar

Pulauku berpintu kalbu yang tak pernah berbiru airnya dan sering kehilangan rasa dan menawar karang agar tak lagi merongga dindingnya supaya tak lagi ada gelombang pasang menutupi tubuh yang kokoh dan teguh
Pulauku tak lagi bertitik di peta kehidupan kembara semenjak ketinggian ombak melebihi puncak cinta yang menggunung di bibir kata-kata
Membuncah pecah di tubuh anak dara yang putingnya belum lagi ranum untuk disesap angin puting beliung di pulau yang terlupa olehmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar